Selasa, 06 Desember 2011

ALMANAK MASEHI DAN HIJRIYAH PROSES MENDESAIN DAN PERKEMBANGANNYA


Oleh: Bashori Alwi, MSI
A.    PENDAHULUAN
Sebagai makhluq hidup manusia tidak luput dari berbagai aktifitas dan peristiwa-periswa, baik yang bersifat penting atau pun yang biasa saja, namun semua itu tidak luput dari keterkaitan dengan waktu dan tempat, kemudian untuk mengingat sebuah peristiwa atau pun merencanakan aktifitas maka perlu adanya waktu tertentu yang khusus agar dapat dijadikan pendoman dan aktifitasnya itu.
Sejak ribuan tahun silam, kalender telah diciptkan oleh manusia, karena memang membutuhkannya, sebagaimana yang telah dilakukan oleh bangsa mesir telah membuat kalender matahari sekitar tahun 4221 SM, pada saat itu tahun matahari terdiri dari 365 hari terbagi kedalam 12 bulan dan masing-masing terdapat 30 hari kedian ditambah 5 hari sebagai pesta perayaan tahunan[1].
Pada saat sekarang terdapat berbagai macam kalender di dunia, sedangkan di Indonesia untuk saat ini berlaku 5 macam kalender, di antaranya : Kalender Hijriyah, Masehi, Caka Bali, Saka Jawa (asapon/aboge), dan Kalender China. dan semua kalender itu memiliki sistematika sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, baik nama bulannya ataupun ataupun umur dalam masing-masing bulannya.
Dalam makalah ini akan dibahas kalender dua macam kalender saja, yaitu kalender Masehi dan Hijriyah, yang mana kalender berlaku paling umum dikalangan masyarakat Indonesia.

B.     KALENDER MASEHI
Kalender masehi termasuk dalam kategori kalender matahari (solar kalender) karena dalam penentuan panjang satu tahunnya menggunkan siklus matahari, yaitu siklus matahari saat melewati titik vernal equinok dua kali berturut-turut. Pembuatan kalender Masehi ini juga berdasarkan pada siklus tropis matahari karna adanya kepentingan manusia secara umum akan kalender yang seirama dengan keadaan alam. Sehingga mereka dapat mengetahui kapan musim tanam, musim panen dan lain sebagainya dengan melihat kalender[2].
Berdasarkan pengamatan astronom barat, siklus matahari ini ternyata tidak tetap atau bisa dikatakan bersifat variatif dalam satu tahunnya, yang mana pada mulanya kalender ini di awali dengan munculnya rasi bintang aries pada tanggal 24 Maret, namun pada tahun 325 M rasi bintang aries sudah muncul pada tanggal 21 maret, sehingga tanda awal perhitungannya berubah menjadi tanggal 21 maret[3], kemudian pada tahun 1582 seorang astronom melihat rasi bintang aries sudah muncul pada tanggal 11 maret, sehingga disimpulkan dari tahun 325 M sampai tahun 1582 M terjadi keterlambatan 10 hari. sehingga pada kalender masehi ini sering terjadi perubahan dalam penentuan tanggalnya, perubahan itu tentu berdasarkan siklus matahari yang berubah dari awal ditentukannya.
Dalam perkembangannya kalender Masehi mengalami reformasi dua kali, reformasi pertama dilakukan pada masa Julius caesar yang kemudian hasilnya dikenal dengan nama Kalender Julian, sedangkan reformasi kedua dilakukan oleh Paus Gregory VIII yang kemudian hasilnya dikenal dengan nama Kalender Gregori. Pada makalah ini akan membahas proses reformasi mulai dari kalender julian hingga kalender Gregori.
1.         Kalender Julian
Kalender Masehi yang dipakai dunia sekarang adalah kalender Gregori, tetapi ada juga yang masih memakai kalender Julian terutama di gereja-gereja Orthodox negara Yerussalem, Rusia dan Serbia. Bahkan untuk perayaan hari Paskah dan hari raya yang berhubungan dengan Paskah; hampir semua gereja Orthodox masih menggunakan kalender Julian. Sehingga berdasarkan beberapa alasan inilah kemudian kami berinisiatif untuk menerangkan kalender Julian beserta hari-hari perayaan kristen Orthodox.
a.      Sejarah Kalender Julian
Kalender Julian ini sebenarnya merupakan pengembangan dari kalender yang digunakan bangsa Romawi kuno yang dilakukan oleh Julius Caesar (45 SM). Sedangkan kalender Romawi itu sendiri sebenarnya sudah digunakan sekitar abad ke-7 SM oleh pendiri Romawi yaitu raja Romulus. Dimana pada saat itu setahun terdiri atas 10 bulan yaitu :
1.      Martius (31)
2.      Aprilis (30)
3.      Maius (31)
4.      Junius (30)
5.      Quintilis (31)
6.      Sextilis (30)
7.      Septalis (31)
8.      Octolis (31)
9.      Novelis (30)
10.  Decemberis (31)
dan ditambah 2 bulan tanpa nama pada musim dingin. Raja berikutnya, Numa Pompilius, menamakan dua bulan tanpa nama tersebut dengan Iannarils (Januari) dan Februarias (Pebruari) dan menjadikan bulan Januari sebagai bulan pertama dalam kalender Romawi serta memindahkan bulan Februarias menjadi bulan ke-12. Kemudian Pada tahun 452 SM bulan Februarias dipindahkan sebagai bulan ke-2, sehingga susunan kalender menjadi sebagaimana berikut :
1.      Ianuarius
2.      Februarius
3.      Martius
4.      Aprilis
5.      Maius
6.      Iunius
7.      Quintilis
8.      Sextilis
9.      September
10.  October 
11.  November
12.  December
Sebenarnya, asal muasal Kalender Romawi tersebut termasuk kalender Bulan (Lunar Calendar), dimana umur bulan rata-rata 29-30, sehingga dalam setahun terdapat 354-355 hari yang berarti ada keterpautan antara panjang siklus tropis matahari sebesar 10-11 hari pertahun. Setelah berlangsung cukup lama mereka punya pemikiran bagaimana agar kalender Romawi bisa mengikuti irama dari perubahan musim (siklus tropis), Kemudian ditetapkanlah adanya penambahan bulan yang dilakukan setiap 2-3 tahun sekali. Sehingga kalender Romawi menjadi lunisolar Calendar setelah diadakan penambahan bulan tersebut. Panjang bulan tambahan ini dihitung oleh sekelompok pendeta tinggi yang disebut sebagai Pontiffs yang diketuai oleh seorang Pontifex maximus. Para Pontiff adalah pegawai negeri yang bertanggung jawab atas pengaturan berbagai masalah keagamaan tertentu, termasuk penentuan tanggal untuk upacara- upacara dan pesta-pesta.
Sekalipun sudah diadakan bulan sisipan supaya kalender Romawi seirama dengan siklus tropis matahari, tetapi masih banyak kesalahan atau ketidakcocokan, diantaranya pada saat matahari melewati titik vernal equinok (25 Maret); itu sudah melesat. Pada saat Juliaus Caesar berkuasa dan ditunjuk sebagai pontifex Maximus 63 SM, kemelesetan telah mencapai 3 bulan dari patokan yang seharusnya.
Ketika Julius Caesar mengadakan kunjungan ke Mesir tahun 47 SM, ia sempat menerima anjuran dari para ahli perbintangan Mesir untuk memperpanjang tahun 46 SM menjadi 445 hari. Sehingga dengan tambahan hari sebanyak itu kalender Romawi diharapkan bisa sesuai dengan keadaan musim (Siklus tropis matahari).
Sekembalinya ke Roma tepatnya pada tahun 45 SM Julius Caesar mereformasi kalender Romawi tersebut dengan bantuan Sosigenes, seorang astronom Yunani dari Alexandria. Kalender Romawi yang asalnya Lunisolar Calendar diubah menjadi Solar Calendar, sehingga penggunaan Lunar Month dan bulan tambahan pada Kalender Romawi tidak digunakan lagi. Satu tahun pada kalender ini ditetapkan menjadi 365 hari kecuali pada tahun kabisat yang terjadi setiap 4 tahun sekali memiliki jumlah hari 366 hari. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan jumlah hari rata-rata dalam setahun dengan panjang siklus tropis matahari yang dihitung oleh Sosigenes yaitu 365,25 hari. Sedangkan urutan bulan seperti semula yaitu dimulai dari Iannarils, Februarias, Martius, Aprilis, Maius, Iunius, Quintilis, Sextilis, September, October, November dan December.
Untuk mengembalikan posisi titik vernal equionok ke tanggal 25 Maret yang pada saat itu sudah bergeser, Julius menambahkan 90 hari dengan perincian; 23 hari pada bulan Pebruari dan menambah 67 hari antara bulan November dan Desember. Rupanya ini merupakan tahun terlama dalam sejarah. Namun adanya kekacauan selama 90 hari itu, perjalanan tahun Romawi menjadi cocok dengan musim.
Panjang dari setiap bulan pada kalender Julian ditetapkan sebagai berikut: Pada bulan ganjil memiliki panjang 31 hari dan bulan genap 30 hari, kecuali bulan Pebruari memiliki panjang 29 hari pada tahun Basitoh dan 30 hari pada tahun Kabisat. Hari tambahan tersebut ditambahkan diantara tanggal 24 dan 25. Dengan demikian hari tambahan tersebut menjadi hari ke-25 dalam bulan Pebruari, atau 6 hari sebelum bulan Maret. Hari tambahan tersebut dikenal dengan nama Bissextum dan tahun kabisat tersebut disebut tahun Bissextile.
Nama Bissextum tersebut berasal dari perhitungan hari dalam satu bulan dengan titik perhitungan sebagai berikut:
1.      Kalends, merupakan hari pertama dalam suatu bulan, dan rutin digunakan untuk pembayaran hutang. Hal ini menimbulkan istilah kalendarium untuk suatu buku keuangan. Istilah tersebut yang kemudian menghasilkan istilah kalender.
2.      IIdes, Merupakan hari ke-13 dalam suatu bulan, kecuali untuk bulan Martius (maret), Maius, Quintilis dan October merupakan hari ke-15.
3.      Nones, merupakan hari ke-8 sebelum Ides, yaitu hari ke-5 atau ke-7.  
Perhitungan hari tersebut dilakukan berdasarkan titik perhitungan didepannya. Dengan demikian , tanggal 25 Martius dihitung sebagai VI Kalends Martius.
Penggunaan aturan tahun kabisat oleh Julian tidak langsung digunakan pada masa awal penggunaan kalender tersebut. Karena kesalahan perhitungan, setiap tahun ke-3 merupakam tahun kabisat. Berikut ini adalah urutan tahun kabisat dimulai dari tahun 45 SM, sebagai permulaan kalender Julian ini: 45 SM, 42 SM, 39 SM, 36 SM, 33 SM, 30 SM, 27 SM, 24 SM, 21 SM, 18 SM, 15 SM,12 SM, 9 SM, 8 M. Dengan demikian, tidak ada tahun kabisat diantar 9 SM dan 8 M. Kemudian setelah tahun 8 M, perhitungan tahun kabisat kembali normal.
Pada tahun 44 SM, Julius mengganti nama bulan Quintilis menjadi bulan Julius (Juli) berdasarkan namanya. Kemudian pada tahun 8 SM, bulan Sextilis diganti menjadi Agustus berdasarkan nama kaisar penerus Julius, yaitu kaisar Augustus. Kemudian, untuk menyamakan jumlah hari pada bulan agustus tersebut dengan bulan Juli, satu hari dari bulan Pebruari dipindahkan ke bulan Agustus, sehingga bulan Pebruari memiliki jumlah 28 hari pada tahun Basitoh dan 29 hari pada tahun Kabisat. Karena 3 bulan dengan jumlah hari 31 hari tidak boleh terjadi secara berurutan, maka bulan September dan November dikurangi menjadi 30 hari, dan bulan Oktober serta Desember menjadi 31 hari.
Dalam perkembangannya, hari tambahan pada bulan Pebruari dalam tahun Kabisat tidak ditambahkan sebagai hari ke-25, akan tetapi ditambahkan sebagai hari ke-29. Sedangkan penggunaan satu minggu pertama kali digunakan oleh kaisar Constantine I abad ke-4 M. Tepatnya pada tahun 321 M, dia mengeluarkan maklumat yang memperkenalakan minggu yang terdiri dari 7 hari dalam kalender, dengan demikian menghapus sistem Kalends, Ides dan Nones. Konstantin menetapkan hari minggu sebagai hari pertama dalam satu minggu dan memisahkannya dari yang lain sebagai hari ibadah umat Nasrani. Penggunaan satuan minggu tersebut tidak berdasarkan fenomena alam. Bangsa Romawi menamakan hari dalam satu minggu sebagai penghormatan bagi matahari, bulan dan planet-planet.

b.      Peraturan dalam Kalender Julian
Permulaan kalender dihitung sejak dari kelahiran Nabi Isa as. Tahun-tahun dalam kalender Julian dibagi 2 macam yaitu tahun Basithoh / pendek (Common Year) dan tahun Kabisat / panjang (Leap Year). Dalam 4 tahun sekali terdiri dari 3 tahun basitoh dan 1 tahun Kabisat. Panjang tahun basithoh adalah 365 hari sedangkan panjang tahun kabisat adalah 366 hari dengan penambahan hari (Intercalary Day) pada akhir bulan Februari[4]. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan jumlah hari rata-rata dalam satu tahun dengan panjang siklus tropis matahari yang dihitung oleh Sosigenes yaitu 365,25 hari. Dimana setiap tahunnya kelebihan 0,25 hari, sehingga dalam 4 tahun akan kelebihan 1 hari, Sedangkan nama-nama bulan dalam kalender Julian  beserta umurnya sebagai berikut :
1) Januari         31 hari             7)   Juli            31 hari
2) Februari       28 hari *          8)   Agustus     31 hari
3) Maret          31 hari             9)   September 30 hari
4) April            30 hari             10) Oktober     31 hari
5) Mei              31 hari             11) November 30 hari
6) Juni             30 hari             12) Desember  31 hari
* pada tahun kabisat bulan Februari berumur 29 hari.

2.      Kalender Gregori (Gregorian Calendar)
Kalender Gregori pada saat ini merupakan kalender yang dijadikan standar internasional untuk kehidupan sehari-hari, termasuk di Indonesia, bahkan untuk menentukan beberapa perayaan misalnya hari proklamasi kemerdekaan RI yang diperingati setiap tanggal 17 Agustus. Disamping untuk mengatur kehidupan sehari-hari kalender masehi juga mengatur beberapa perayaan dan hari penting ummat Kristen dan Katolik.

a.      Sejarah Kalender Gregori
Sistem kalender Masehi (Gregorian) yang sekarang digunakan, berakar dari sistem kalender Julian yang merupakan perbaikan sistem kalender (penanggalan) Romawi. Reformasi kalender ini dilakukan Julius Caesar pada tahun 45 SM dengan bantuan seorang ahli matematika dan astronomi Alexandri yang bernama Sosigenes, dengan mempergunakan panjang satu tahun syamsiah = 365,25 hari. Sistem kalender ini kemudian terkenal dengan sistem kalender Julian.
Menurut konvensi dari kalender Julian, tahun yang habis di bagi 4 adalah tahun kabisat (366 hari) dan yang lainnya adalah tahun Basithoh (365 hari). Dalam sistem kalender Julian di temukan adanya pergeseran (semu) sistematis kedudukan matahari terhadap titik Aries (sekarang titik Pisces) pada tanggal yang sama setiap tahunnya, yaitu saat matahari melintasi ekuator langit atau saat posisi matahari ke arah titik vernal equinok tidak dapat di pertahankan pada tanggal tertentu (21 Maret). Setiap 128 tahun besarnya pergeseran itu adalah 1 hari , hal ini di sebabkan karena perbedaan panjang 1 tahun kalender Julian (365,25 hari) dengan panjang 1 tahun tropis rata-rata matahari (365,2422 hari) yaitu sebesar 0,0078 hari pertahun,
Menurut Saaduddin Djambek dalam bukunya hisab rukyat bahwa bumi mengilingi matahari selama 365,242199 hari atau 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik, masa itu dinamakan satu tahun tropis[5].
Pergeseran sistematik dalam kalender yang menggambarkan saat matahari menuju titik Aries ini menyulitkan bagi yang berkeinginan mempunyai tanggal yang tetap untuk suatu perayaan yang bersandar pada kalender matahari dan kedudukan matahari terhadap titik Aries, terutama hari Paskah yang diatur jatuh pada hari minggu setelah terjadinya saat oposisi urfi (Full Moon Ecclesiastical) pada tanggal 21 Maret atau setelahnya. Hal inilah salah satu yang melatar belakangi reformasi yang dilakukan oleh Gregorius XIII di bantu pendeta yang ahli matematika dan astronomi, Christoper Clavius. Mereka mencanangkan pemutusan rantai kalender Julian pada kamis 4 Oktober 1582 dan menyambungnya dengan kalender Gregorian Jum’at 15 Oktober 1582. Penyambungan 2 sistem kalender matahari ini menyebabkan jumlah hari pada bulan oktober 1582 berkurang 10 hari[6].
Pengurangan 10 hari ini karena pada saat Konsili Nicaea pada tahun 325 M, titik vernal Equinok terjadi pada tanggal 21 Maret. Dengan demikian pergeseran titik vernal Equinok yang terjadi pada tahun 1582 M sebesar (1582 – 325) / 128 = 10 hari, artinya titik vernal equinok pada tahun 1582 terjadinya bukan pada tanggal 21 Maret tetapi pada tanggal 11 Maret, sehingga dengan diadakan pemotongan 10 hari itu, diharapkan ketika matahari melintasi titik vernal equinok pada tanggal 21 Maret lagi, Pergeseran Matahari ini dari titik vernal equinok kembali lagi ke vernal equinok tahun berikutnya di sebut dengan diklinasi matahari, Deklinasi positif mulai tanggal 21 Maret s/d tanggal 23 september, dari tanggal 23 September sampai tanggal 21 Maret adalah deklinasif Negatif[7].
Sedangkan pemotongan yang dilakukan pada bulan Oktober atas dasar pertimbangan: pada bulan tersebut tidak ada peringatan atau Hari Raya penting dalam agama Kristen, sehingga tidak merepotkan.
Pada reformasi kalender Julian ini, yang kemudian dikenal kalender Gregorian meniadakan tahun kabisat untuk tahun yang habis di bagi 100 tetapi tidak habis di bagi 400. Dengan aturan ini panjang satu tahun rata-rata kalender Gregorian adalah 365,2425 hari, hanya saja kalender Gregorian ini tidak langsung di terima oleh masyarakat dunia. Seperti yang terjadi di negara Jerman, Belanda dan Denmark yang baru menerima kalender Gregori pada tahun 1700. Di Inggris penggunaan kalender Gregori dimulai pada tahun 1752 dengan meniadakan tanggal 3 – 13 September 1972 (Rabu, 2 September 1752 dan keesokan harinya: Kamis, 14 September 1752). Kalender ini baru di terima oleh seluruh masyarakat dunia sekitar tahun 1920-an.
b.      Beberapa peraturan kalender Gregori.
Peraturan dalam kalender Gregori sama dengan peraturan dalam kalender Julian terkecuali dalam penentuan tahun kabisat, dimana peraturan dalam kalender dalam Gregori menyatakan : Tahun abad hanya kabisat kalau habis dibagi 400.
Sehingga tahun ke 100, 200 dan 300 yang menurut kalender Julian merupakan tahun kabisat, kalau menurut kalender Gregori bukanlah tahun kabisat karena tidak habis jika dibagi 400. Hal ini menyebabkan dalam 400 tahun kalender Gregori hanya terdapat 97 tahun kabisat. Dengan demikian panjang satu tahun kalender Gregori adalah 365,2425 hari. Asalnya dalam 400 tahun terdapat 303 tahun Basitoh dan 97 tahun Kabisat, jumlah harinya (365 x 303) + (366 x 97) = 146097 hari, sehingga  jumlah hari sebanyak 146097 kalau dibagi 400 tahun akan menghasilkan panjang pertahun = 365,2425 hari.
Kalau dilihat panjang tahun Gregori tidak sama persis dengan panjang tahun tropis (siklus tropis) pada tahun 2000 yaitu 365,2422 hari. Umpama panjang siklus tropis tetap, keduanya akan berselisih sebesar 0,0003 hari per tahun atau 3 hari setiap 10000 tahun. Hal ini akan menjadi permasalahan lagi di kemudian hari bagi yang berkeinginan mempunyai tanggal yang tetap untuk suatu perayaan yang bersandar pada kalender matahari dan kedudukan matahari terhadap titik vernal equinok, yaitu perayaan Paskah yang diatur jatuh pada hari minggu setelah terjadinya saat oposisi urfi (Full Moon Ecclesiastical) pada tanggal 21 Maret atau setelahnya. Jika suatu saat kalender Gregori tidak di reformasi lagi, maka perayaan Paskah tidak akan sesuai lagi dengan peraturan (definisi) yang mereka buat.
Akibat adanya ketidaktepatan kalender Gregori dengan panjang satu tahun tropis, maka bermunculanlah gagasan penyempurnaan sampai kepada reformasi, seperti yang dilakukan oleh Astronom Delambre dari Prancis pada tahun 1814 mengusulkan koreksi terhadap kalender Gregori dengan meniadakan tahun kabisat pada tahun 3600, 7200, 10800 dan seterusnya. Enccyclopedia Britanica pada tahun 1959 mengusulkan peniadaan tahun kabisat pada tahun 4000 dan tahun yang habis dibagi 4000. Pram Viet Trinh dari Departement of Physics and Astronomy Hanoi Pedagogical Institute – Vietnam pada tahun 1993 mengusulkan jumlah tahun kabisat dalam kurun waktu 10000 tahun sebanyak 2422 tahun. Dengan demikian, selisih hari antara siklus tahun tropis matahari dan panjang satu tahun rata-rata dalam kalender Matahari bisa mendekati nol, tepatnya 0,000001 hari tiap 10000 tahun atau 1 hari setiap satu juta tahun.
365,242199 hari – [365 x (10000 – 2422)] + [366 x 2422] = 0,000001 hari.
                                                            10000
Lebih jauh lagi Pam Viet Trinh juga mengusulkan reformasi bahwa sepekan terdiri dari 6 hari dan tiap bulan terdiri dari 30 hari ditutup dengan bulan ke-4 terdiri dari 31 hari, tahun basitoh 365 hari dan tahun kabisat 366 hari. Usul ini mirip dengan usul yang pernah dikemukan oleh E.R. Hope pekerja Translation Officier dari The Defence Research Board-Ottawa, Kanada, pada tahun 1963 dan 1964, dengan pola bulan ke-3 terdiri dari 31 hari.
Usul lainnya dari Peter A. Peck, University Computing Sytem, University of Alberta, Edmonton, Alberta, Kanada, pada tahun 1989 menganalisa panjang tahun tropis dalam jangka panjang, seratus ribu tahun. Sayangnya analisis itu mendapatkan kritik, karena tidak memperhatikan batas keberlakuan rumus Simon Newcomb.
Kalau kita lihat dari beberapa gagasan penyempurnaan diatas, terutama gagasan dari Pram Viet Trinh, jelas bagi kita bahwa gagasan tersebut mengabaikan variasi dari panjang tahun tropis yang menurut penelitian dan kenyataan yang ada; panjang tahun tropis tersebut semakin pendek, misalkan pada awal tahun masehi setahun terdiri dari 365,2431 hari ephemeris dan pada tahun 2000 yang lalu menjadi 365,2422 hari ephemeris Dan saya memprediksikan bahwa kalender Gregori 10000 tahun yang akan datang tidak akan terpaut 3 hari dengan panjang tahun tropis, tetapi lebih dari 3 hari.
Oleh karena itu diharapkan gagasan penyempurnaan atau reformasi kalender Gregori harus memperhitungkan presesi bumi dan perlambatan rotasi bumi yang menjadi faktor utama adanya variasi panjang tahun tropis, sehingga seluruh manusia di dunia ini tidak sering kebingungan untuk bersepakat terhadap sistem kalender kosmos yang berlakunya bersifat universal.
Untungnya menurut hasil telaah berdasarkan pengetahuan perlambatan rotasi bumi dan dinamika presesi bumi oleh Kazimiers Borkowski (1991) dari Torun Radio Astronomy Observatory, Nicolaus Copernicus University, Torun, Polandia mengenai 1 tahun tropis yang di kaji ulang olehnya untuk jangka panjang;  Disimpulkan bahwa belum ada persoalan yang serius mengenai kesalahan tahun tropis kalender Gregorian sampai tahun 4000 M.
Jadi kita patut bersyukur, karena presesi dan perlambatan rotasi bumi tidak terlalu cepat bagi ukuran peradaban manusia, kalau tidak ummat manusia akan sering kebingungan untuk bersepakat terhadap sistem kalender kosmos yang bersifat universal.

0 komentar:

Poskan Komentar